NEWSTICKER
Home / Berita Utama / TEKNIK PENGENDALIAN HAMA HIDROPONIK MENGGUNAKAN PESTISIDA ALAMI

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA HIDROPONIK MENGGUNAKAN PESTISIDA ALAMI

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura adalah dinas yang berjalan di bidang Pertanian sub urusan Tanaman Pangan dan Hortikultura yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantu yang diberikan kepada Daerah untuk membantu Program yang dicanangkan oleh Bupati.

Dinas Tanaman Pangandan Hortikultura Kabupaten Banjar juga membudidayakan sayuran dengan system hidroponik, dengan menerapkan DFT System (Deep Flow Technique) dan Wick System. Dalam membudidayakan tanaman dengan system hidroponik pastinya tidak lepas dari serangan hama. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura menggunakan 2 cara untuk menangani hama tanaman yang menyerang yaitu sebagai berikut :

Untuk hama yang bisa terbang seperti lalat buat, lalat penggerek daun, tungau terbang, dapat menggunakan perangkap sederhana yang terbuat dari botol air mineral yang di cat bagian dalam dengan warna kuning cerah, lalu di beri lem tikus disekelilingnya agar serangga tertarik dengan warnanya, dan terperangkap di lem. Selain itu bisa juga menggunakan botol air mineral yang diberi lubang kecil disekeliling samping botol mulai dari tengah ke atas dan bagian tutupnya, lalu dimasukkan kapas yang diberi zat adiktif pemberi aroma buah yang di gantung dengan kawat, sehingga hama terbang akan tertarik dengan aromanya kemudian masuk kedalam botol dan tidak bisa keluar lagi.

Untuk hama tak terbang seperti ulat crop yang sembunyi di bagian bawah tanaman dan bagian bawah daun dan kutu kebul, dapat diaplikasikan menggunakan pestisida nabati yang menggunakan daun nimba yang diblender, air nimba yang sudah diblender kemudian disaring antara ampas dan cairan. setelah itu cairan nimba dicampur dengan air biasa dengan perbandingan 1 liter air dicampur dengan 1 tutup botol air mineral dan kemudian dapat langsung diaplikasikan dengan cara di semprot pada tanaman yang diserang hama. Selain untuk mengatasi tanaman yang sudah terserang hama, cairan nimba juga dapat diaplikasikan untuk pencegahan sehingga tanaman tidak terserang oleh hama.

Dengan pengaplikasian menggunakan daun nimba terbukti dapat mengusir dan membunuh hama. Aroma dari daun nimba yg tidak disukai oleh hama, dan rasa pahit yang sangat kuat dari daun nimba. Tetapi sinar matahari dapat menguraikan zat dalam nimba yang disemprotkan pada tanaman dalam waktu seminggu. Namun pengaruh sistemiknya dapat diperpanjang sampai lebih dari satu bulan dengan mencampurkan azadirachtin. Azadirachtin adalah fitotiksisitasnya kecil atau tidak ada pada dosis efektif, tidak toksik untuk manusia dan vetebrata lainnya, daya kerja utamanya adalah antifeedant untuk serangan hama. Azadiracthin sensitif terhadap sinar untra violet. Di samping itu ada 3 senyawa kimia penting yang terdapat di daun nimba, yaitu azadirachtin, salanin, dan meliantriol. Ketiga senyawa tersebutlah yang digolongkan kedalam kelompok Tripernoid yang merupakan bahan pestisida alami, tapi yang paling efektif adalah azadirachtin.

Efek dari daun nimba lebih pengaruh pada daya makan, pertumbuhan, reproduksi, proses berganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu daun nimba juga berperan sebagai pemandul, mengganggu proses perkawinan, menghambat peletakan telur, dan dapat bekerja secara sistemik. (Denanda)

Check Also

PETANI DI KECAMATAN GAMBUT LAKSANAKAN GERAKAN PENGENDALIAN OPT

Di tengah pandemi covid-19, usahatani padi tetap harus berjalan. Pada musim tanam MK. 2020, dimana …