NEWSTICKER
Home / Berita Utama / GERAKAN PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) MELATI

GERAKAN PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) MELATI

Tanaman melati merupakan tanaman florikltura yang cukup menguntungkan dimana prosfeknya kedepan sangat menjanjikan karena selama ini masyarakat sangat membutuhkan bunga melati untuk acara-acara ritual keagamaan, acara adat dan acara pernikahan serta kadang untuk menghiasi rumah dengan rangkaian bunga melati sehingga bisa menjadi penambah penghasilan masyarakat. Tanaman melati selain untuk dijual bunganya juga bisa di ambil sari bunganya untuk diolah aroma terapi.  Saat ini tanaman melati dikembangkan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Martapura dan Kecamatan Karang Intan. Untuk Kecamatan Martapura desa Bincau seluas 37,8 borong dan Labuan tabu seluas 297 borong. Kecamatan Karang Intan di desa Jingah Habang  Ulu seluas 20 borong, Jingah Habang Ilir seluas 329 borong, Pandak Daun seluas 61 borong.

Saat ini Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar ingin mengembangankan tanaman melati untuk menjadi agrowisata bunga karena melihat manfaat dan prosfek tanaman melati yang begitu besar untuk masyarakat. namun karena pengembangan melati saat ini masih merupakan usaha swadaya dari masyarakat sehingga adanya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang menyerang pertanaman melati dapat menyebabkan turunnya kualitas bunga melati sehingga dianggap perlu untuk mengadakan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) untuk tanaman melati.

Gerakan ini dilaksanakan sebagai bentuk perhatian Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Banjar untuk pengembangan melati sebagai agrowisata florikultura dan untuk meningkatkan mutu bunga melati yang dihasilkan.

Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melati dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Juli 2019 di desa Jingah Habang Ilir dengan dihadiri Kepala Dinas TPH KAb.Banjar, Koordinator POPT Kab. Banjar, Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kepala BPP Kec. Karang Intan, POPT kec. Karang Intan, PPL Kecamtan Karang Intan, PPL Kec. Martapura, Mantra Tani Kec. Martapura.  serta masing-masing perwakilan dari 5 desa  yaitu desa Bincau. Desa Labuan Tabu, desa Jingah Habang Ulu, Jingah Habang Ilir dan Pandak Daun.

Pada kesempatan ini Koordinator POPT-PHP Kab. Banjar menjelaskan cara pengaplikasian pestisida yang benar karena Selama ini masyarakat sudah melakukan pengendalian dengan pestisida, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan karena ketidak mengertian masyarakat tentang pestisida dan cara pengaplikasiaan pestisida dilapangan. Dan kebanyakan petani melati mencampur beberapa pestisida untuk mengendalikan hama tanpa memikirkan dampak kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Menurut UU No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 20 ayat 1 bahwa Perlindungan Tanaman dilaksanakan dengan Sistem Pengendalian Hama Terpadu, dimana pestisida merupakan alternative terakhir.  Dalam pengaplikasian pestisida harus menerapkan 5 tepat yaitu tepat  jenis, tepat dosis dan tepat konsentrasi, tepat waktu dan tepat cara

Penggunaan pestisida tidak boleh terus menerus digunakan dengan alasan agar semua hama bisa dibasmi karena bisa menyebabkan hama menjadi resisten terhadap aplikasi pestisida dan bisa menyebabkan ledakan hama.

Hama yang menyerang tanaman melati termasuk hama yang resisten.karena bila petani melati tidak mencampur dengan beberapa merek pestisida hama tidak akan mati.  Pengendalian hama secara alami lebih di rekomendasikan karena bunga melati akan dimanfaatkan dalam industri teh (sebagai pemberi aroma rasa teh).

Pestisida alami yang biasanya digunakan untuk mengendalikan hama adalah berupa Pestisida Nabati seperti Bawang Putih (Allium sativum) bawang putih mengandung bahan aktif utama Allisin yang bersifat antibiotik (antibakteri) efektif pada hama kutu-kutuan mengatasi penyakit layu akibat jamur Fusarium dan bakteri Ralstonia pada tanaman cabai dan tomat dengan aplikasi pengocoran,Tembakau (Nicotiana tabacum) tembakau efektif untuk mengendalikan hama penghisap seperti Aphis sp, walang sangit, penggerek batang, selain berfungsi sebagai insektisida, tembakau juga bisa digunakan untuk mengatasi penyakit Blast (bercak daun berbentuk belah ketupat pada padi),Mimba (Azadirachta indica) biji dan daun mimba mengandung bahan aktif Azadirachtin, Salanin, Nimbenen, dan Mellantriol. Pestisida organik mimba efektif untuk mengendalikan ulat, hama penghisap (kutu-kutuan), jamur, bakteri, nematoda, dan sebagainya. Sirsak (Annona muricata) daun sirsak mengandung bahan aktif Annonain dan Resin. Pestisida nabati daun sirsak efektif untuk mengendalikan hama trip, wereng, walang sangit dan penggerek batang. Pepaya (Carcia papaya)Daun pepaya mengandung bahan aktif Papain. Pestisida nabati daun pepaya efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap seperti Aphis sp. Serai (Andropogan nardus) serai mengandung bahan aktif Silica (Si02) pada bagian daun dan batang, yang bermanfaat mengendalikan ulat atau kutu daun. Selain itu, bau dari tanaman serai sangat tidak disukai oleh tikus,Gadung (Dioscorea hispida)  Umbi gadung mengandung bahan aktif Diosgenin, Steroid Saponin, Alkoloid dan Fenol. Pestisida nabati umbi gadung efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap.

Selain melakukan gerakan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Banjar telah membantu sarana pengendalian berupa 5 buah handsprayer untuk 5 desa. Dan juga insektisida capture 50 EC sebanyak 1 dus untuk diaplikasikan diareal pertanaman melati. Diharapkan bantuan yang diberikan bisa menambah semangat petani melati untuk mengembangkan melati sebagai agrowisata florikuktura di Kabupaten Banjar.

Diharapkan setelah adanya Gerakan Pengendalian ini masyarakat bisa mengerti tentang cara mengaplikasikan pestisida dengan benar sehingga bisa memberi dampak yang maksimal dan kelestarian lingkungan tetap terjaga dengan baik. (Listi/Roni-TPH)

Check Also

KONTES DURIAN PROVINSI KALSEL, KABUPATEN BANJAR RAIH JUARA UMUM

Kemeriahan warga pecah ketika Paman Birin sapaan akrab Gubernur Kalimantan Selatan meresmikan Acara Makan Durian …